Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI PANJAITAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI PANJAITAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Maret 2015

ASAL MULA SIPAHUTAR

ANAK SIPAHUTAR
Dari cerita yang turun temurun, maka konon ceritanya RAJA SIPAHUTAR digelari juga 'SOPIAK LANGIT'. Gelar itu diberikan kerena kondisi indera penglihatannya tidak sempurna. Konon tanah kelahiran Si Raja Sipahutar berasal dari 1 kampung di pinggiran Danau Toba, sekitar kota Porsea. Adapun saudara dari Raja Sipahutar adalah abang beradik yang berasal dari 1 Ayah, yang bernama Datu Dalu. Abang beradik itu adalah :
1. Pasaribu (Habeahan, Bondar, Gorat)
2. Batubara
3. Sipahutar
4. Matondang
5. Tarihoran
6. Harahap
7. Gurning
8. Saruksuk
9. Parapat dan Tanjung

Kamis, 05 Februari 2015

Sejarah suku BATAK








Pembagian utama Si RAJA BATAK  :
  1. Guru Tateabulan
  2. Raja Isumbaon
Belahan yang dinamakan LOTUNG, yang mencakup kelompok suku yang sebenernya, yaitu Himpunan BORBOR, dan juga sejumlah marga yang lebih kecil, berasal dari Guru Tateabulan.
Yang dinamakan belahan SUMBA yang ke dalamnya termasuk sisa kelompok suku dan marga lainnya, berasal dari Raja Isumbaon.
Yang termasuk BELAHAN LOTUNG ada 5 yaitu :
  1. Raja biakbiak
  2. Saribu Raja
    Mempunyai 3 Kelompok yaitu
    1. LONTUNG
    2. BORBOR
    3. BABIAT
  3. Limbong Mulana
    Mempunyai 1 Kelompok yaitu Limbong (Habeahan)
  4. Sagala Raja
    Mempunyai 1 kelompok yaitu Sagala
  5. Malau Raja
    Mempunyai 4 kelompok yaitu
    1. Paseraja – Malau
    2. Manik
    3. Ambarita
    4. Gurning

Kamis, 15 Januari 2015

Barus : Pintu Masuk Islam di Indonesia

Sejak berabad lamanya dan bahkan hingga saat detik ini, kapur barus dimanfaatkan oleh seluruh dunia sebagai wewangian hingga obat-obatan. Indonesia boleh berbangga hati karena salah satu wilayah di Sumatera Utara, merupakan primadona penghasil komoditi tersebut.

Daerah yang dimaksud adalah Barus, sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Meskipun tak seterkenal Medan ataupun Danau Toba, Barus begitu istimewa karena dipadati sejarah dan jejak peradaban.

Bisa jadi, Barus merupakan satu-satunya kota kecil di Tanah Air yang namanya telah disebut sejak awal abad Masehi oleh literatur-literatur dalam berbagai bahasa seperti bahasa Yunani, Siriah, Armenia, Arab, India, Tamil, China, Melayu, dan Jawa.

Kapal-kapal asing berlabuh di sana ribuan tahun yang lalu. Barus pernah diklaim sebagai kota pelabuhan terbesar se-Nusantara. Pada 627-643 Masehi, pedagang dari Timur Tengah berdatangan untuk memburu pohon kapur barus. Sejak itulah Barus dipercaya sebagai pintu masuk agama islam di Indonesia. Barus kemudian tersohor dan menggoda pedagang lain dari Srilanka, Yaman, Inggris dan Spanyol untuk datang.
Catatan sejarah lain menyebutkan bahwa Dinasti Syailendra pernah menaklukan Barus. Juga yang tak kalah menarik, petualang legendaris Marcopolo dan sejarawan muslim Ibu Batutah, dikabarkan pernah singgahi Barus.

Barus merangkum masa lalu lewat situs-situs yang kini masih tertata rapi. Makam-makam tua bercorak islam seperti Makam Mahligai, situs purbakala Tuanku Pinago dan situs Makam Tuanku Kinali adalah beberapa saksi bisu yang bisa dijumpai. Pulau Karang di seberang pesisir Barus juga menyimpan sebuah situs namun Anda harus melewati semak belukar untuk mencapainya.

Dari sekian banyak situs, Makam Papan Tenggi adalah yang paling sering dikunjungi wisatawan. Makam ini begitu indah, lantaran terletak di ketinggian 153 m dpl dan dilatari perairan Samudehra Indonesia. Di sini, terdapat makam istimewa yang memiliki panjang 9 meter dengan nisan setinggi 1,5 meter.


Selasa, 09 April 2013

Biografi Jenderal D.I Panjaitan


Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925. Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI.

Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera. Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).